Kisah Wanita Penjaga Mesjid di Kerinci, seperti “Ummu Mahjan” di Zaman Rasululloh

Kisah Ummu Mahjan seorang marbot/gharim mesjid pada zaman Rasululloh. Ummu Mahjan dikenal dengan semangatnya melakukan suatu hal yang banyak manfaatnya untuk orang lain. Membersihkan masjid adalah pekerjaannya di akhir hidupnya. Seperti di riwayatkan Tharani dan Daruquthi, bahwasanya Rasulullah SAW pernah mengatakan, orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia. “Itulah yang menjadi penyemangat saya untuk membersihkan tempat ini (masjid). Di  mana tempat ini menjadi tempat orang muslim mengingat yang mencitpakannya (Allah SWT),” kata Ummu Mahjan ketika ditanya kerabatnya kenapa selalu berada di lingkungan mesjid, padahal usianya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja. Sehingga menurut sejumlah riwayat Rasululloh memuliakan nya .

Jika mayoritas pekerjaan seperti itu di Zaman sekarang di lakukan oleh Laki-laki . Berbeda dengan perempuan yang satu ini yaitu Samsiah, perempuan yang sehari -harinya menjalani kehidupan sebagai qharim masjid Taqwa Ambai Bawah Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci. berusia sekitar 61 Tahun, tergolong cukup sepuh.

Pekerjaan yang beliau lakukan tergolong cukup banyak, mulai dari menyapu, mengepel lantai, membersihkan loteng, menyedot debu sampai membersihkan toilet.

Ketika di temuai wanita yang ramah ini bercerita bahwa melakukan semua pekerjaan sebagai gharim dengan hati yang ikhlas dan Bahagia. Saat masih muda beliau bekerja di negeri Jiran Malaysia, untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Membantu ekonomi keluarga dengan lima anaknya. Namun nasib malang semua anak dan suaminya di panggil kehadirat Alloh Swt pungkasnya dengan nada sedih.

Saat pulang ke kampung kelahirannya Desa Ambai Bawah Kec. Sitinjau Laut, Melihat ada kondisi yang berbeda di kampungnya. 17 tahun bekerja di malaysia terbiasa bekerja sebagai Cleaning service membersihkan kantor dan bangunan yang besar. Bahkan pernah membersihkan gedung berlantai 12. Alat rumah tangga dan eletronik seperti vacum cleaner mahir di gunakannya.

Saat pulang kampung, kondisi mesjid tampak kurang bersih dan terawat. Hal ini mengganggu pikirannya. Mungkin disebabkan terbiasa bekerja dan senang melihat yang bersih -bersih. akhirnya mengambil inisiatif sendiri, Mulai lah setiap selesai sholat berjamaah di mesjid dengan peralatan seadanya, membersihkan bagian dalam mesjid sampai ke halaman mesjid dilakukannya tanpa diminta oleh siapa pun.

Hal ini dilakukannya setiap harinya, mungkin saya sebatang kara jadi punya banyak waktu untuk pekerjaan lain. Gayung bersambut pengurus mesjid menyambut baik apa yang dilakukan buk Samsiah, sejak beliau sering membersihkan mesjid , rumah alloh ini menjadi terawat dan bersih. Lalu pengurus mesjid menawarkan agar buk Samsiah menjadi qharim mesjid tetap. Mulanya ragu apakah sanggup melakukannya akhirnya dengan segala pertimbangan menerima pekerjaan tersebut karena selain untuk beramal juga melakukan pekerjaan yang disenangi nya untuk memakmurkan mesjid. Sejak menerima tawaran hingga saat ini pekerjaan sebagai gharim mesjid dilakukannya.

Tentu ibuk samsiah tidak bisa dibandingkan dengan ummu mahjan, namun bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat dewasa ini.

Sejumlah kegiatan dilakukan disini seperti sholat berjamaah, pengajian dan pertemuan . Sebagian jamaah Mesjid mengatakan meski gharim mesjid taqwa Ambai Bawah ini seorang perempuan namun tidak kalah dengan pekerjaan Laki-laki. Sulit mencari orang seperti dia di zaman sekarang .(Hs12)